Indahnya berjalan di atas sunnah

menuntut ilmu agama,adalah kunci kebahagian dunia dan akhirat

Kisah Seorang Ahli Ibadah yang Menyusuri Lautan 08/07/2011

Filed under: Kisah-kisah islam — akhrudi88 @ 10:13 p07

Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan,
Kami berada dalam sebuah perahu, lalu kami terlempar oleh angin hingga sampai di sebuah pulau. Kami mendapati seorang laki-laki yang menyembah berhala di pulau itu, maka kami bertanya kepadanya,
‘Kepada siapa kamu menyembah?’ Dia menunjuk kepada sebuah berhala. Kemudian kami berkata,
‘Sesungguhnya ada benda seperti ini dalam perahu kami. Benda (berhala) ini bukanlah tuhan yang patut disembah.’ laki-laki itu balik bertanya,
‘Lalu, kepada siapa kalian menyembah?’
‘Allah.’
‘Siapa Allah itu?’
‘Dzat Yang singgasana-Nya ada di langit, Dzat Yang kekuasaan-Nya ada di bumi, dan Dzat yang kehidupan serta kematian adalah menjadi ketentuan-Nya.’
‘Bagaimana kalian bisa mengetahui dan mengenal-Nya?’
‘Dzat Yang Mahadiraja ini mengirim seorang Rasul kepada kami, lalu Rasul itu mengabarkan kami akan hal itu.’
‘Lantas bagaimana keadaan Rasul itu?’
‘Ketika beliau melaksanakan misinya, Allah mencabut nyawanya.’
‘Apakah dia meninggalkan satu tanda untuk kalian?’
‘Ya, beliau meninggalkan kitab Yang Maha Menguasai.’
‘Tunjukkanlah kitab itu kepadaku. Sudah sepatutnya bila kitab-kitab yang Maha Menguasai adalah indah dan baik.’ Kami pun menyodorkan mushaf Al-Quran kepadanya, lalu dia berkata,
‘Aku tidak tahu ini.’ Kemudian kami membacakan satu surat Al-Quran untuknya. Kami terus membacanya, dan dia menangis hingga kami selesai membaca satu surat itu. Lantas dia berucap,
‘Tidak seharusnya pemilik firman ini didurhakai.’ Setelah itu dia menyatakan diri untuk masuk Islam. Kami membawanya bersama kami, lalu mengajarkan syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al-Quran kepadanya. Ketika malam telah gelap, dan kami usai melaksanakan shalat isya, kami bersiap-siap di pembaringan kami, lalu laki-laki itu bertanya,
‘Wahai kaum, apakah Tuhan yang telah kalian tunjukkan kepadaku ini akan tidur ketika malam telah gelap?’ Kami menjawab,
‘Tidak, wahai hamba Allah. Dia Maha Agung, terus menerus mengurus(makhluk-Nya), Dia tidak pernah tidur.’
‘Seburuk-buruk kaum adalah kalian. Kalian tidur, sedang Tuhan kalian tidak pernah tidur.’ Sungguh ucapannya membuat kami kagum! Saat kami sampai di Ubadan, aku berkata kepada teman-temanku,
‘Laki-laki ini baru mengetahui Islam .’ Kami pun mengumpulkan uang, lalu kami memberikan uang itu kepadanya. Laki-laki itu kembali bertanya,
‘Apa ini?’
‘Kamu akan membelanjakan uang itu.’
‘Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah! Kalian telah menunjukkan jalan yang telah kalian tempuh kepadaku. Dahulu aku berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan dalam keadaan menyembah berhala. Dia tidak menyia-nyiakan aku, sedang aku akan mengenali-Nya.’ Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa dia dalam keadaan menghadapi maut. Maka aku mendatangi dan bertanya kepadanya,
‘Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?’
‘Semua kebutuhan telah ditunaikan oleh orang-orang kalian yang datang ke pulauku,’ jawabnya.”
Abdul Wahid meneruskan ceritanya, “Mataku terpejam, aku tertidur di sampingnya. Aku melihat pemakaman kota Ubadan menjadi kebun yang di dalamnya terdapat sebuah kubah. Di dalam kubah itu ada tempat tidur (ranjang) dan seorang wanita yang kecantikannya tiada duanya. Aku pun bergumam,
‘Demi Allah, aku tidak memohon kepada-Mu, melainkan agar Engkau segerakan dia, sungguh rasa rinduku kepadanya telah membuncah.’ Lalu aku terbangun, aku mendapatinya telah meninggalkan dunia ini. Aku pun memandikan, mengkafani, dan menguburkannya. Ketika malam telah larut, aku tidur dan melihatnya di kubah itu bersama seorang wanita cantik. Dia membaca ayat,
“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 23-24)[1]
Dikutip dari “Belaian Bidadari di Alam Mimpi”
penulis Syaikh ‘Isham Hasanain,
Pustaka at-Tibyan
sumber : http://www.ibnunirwana.co.cc/

 

Jangan mengatakan ” Allah tidak akan mengampunimu,,” 02/07/2011

Filed under: Kisah-kisah islam — akhrudi88 @ 10:13 p07

Tugas seorang muslim adalah menganjurkan perbuatan ma’ruf dan mencegah dari perbuatan mungkar. Demikianlah Allah gambarkan ciri kaum muslimin. Bahkan ciri ini telah menyebabkan Allah memberikan sebutan begitu istimewa kepada ummat Islam. Allah menamakan ummat Islam sebagai Ummat Terbaik yang disajikan untuk segenap ummat manusia.

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran ayat 110)

Amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan bagian integral dari kegiatan menyeru manusia ke jalan Allah atau Da’wah Islamiyyah. Kegiatan ini menuntut hadirnya kegairahan dan emosi positif pada diri pelakunya. Tanpa adanya kegairahan maka seorang muslim tidak akan mau meluruskan penyimpangan saudaranya. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan tergerak untuk menyadarkan orang lain agar meninggalkan perbuatan mungkar yang biasa dia kerjakan. Tanpa gairah mana mungkin seseorang akan punya motivasi untuk mendorong saudaranya mengerjakan perbuatan ma’ruf sesuai anjuran Islam. Namun perlu diingat bahwa bilamana emosi yang melandasi suatu tindakan da’wah bukanlah emosi positif namun sebaliknya malah emosi negatif, maka kegiatan yang asalnya merupakan suatu kebaikan bisa mendatangkan bencana. Bahkan bencana bagi pelaku da’wah itu sendiri.

Yang dimaksudkan dengan emosi positif ialah perasaan yang membara namun tetap terkendali dalam batas-batas yang dibenarkan oleh ajaran Islam. Sedangkan emosi negatif ialah perasaan yang berlebihan sehingga menyebabkan aktifis da’wah melampaui batas yang dibenarkan Islam tatkala ia sedang menasehati saudaranya.

Salah satu bentuk tindakan melampaui batas ialah seperti memandang dirinya berhak menentukan siapa yang bakal diampuni Allah dan siapa yang tidak. Ia lupa bahwa hak mengampuni manusia sepenuhnya berada di tangan Allah Yang Maha Pengampun. Seorang da’i berhak memberitahu saudaranya yang terlibat kemaksiatan untuk menghentikan perbuatannya melanggar aturan Islam, namun ia tidak perlu dan tidak dibenarkan untuk mengancam si pelaku maksiat bahwa kemksiatannya tidak bakal diampuni Allah. Allah sangat sanggup dan berkuasa penuh untuk mengampuni siapa saja yang dikehendakiNya. Perhatikan hadits berikut :

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Ada seorang lelaki yang berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Allah berfirman: ”Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu.” (Hadits shahih riwayat Muslim).

Bahkan dalam hadits lainnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan peristiwa yang pernah terjadi pada Bani Israil. Suatu ketika ada abang-beradik dari Bani Israil. Salah seorang diantara keduanya sering berbuat dosa sedangkan yang lainnya rajin beribadah. Maka setiap kali si pelaku dosa melakukan maksiatnya, maka si ’abid selalu mencegahnya, namun si pelaku dosa terus saja mengulangi perbuatan dosanya. Hingga pada suatu hari ketika si pelaku dosa berbuat maksiat di hadapan saudaranya, maka kali itu ia tidak saja mencegah perbuatan dosa saudaranya. Si ’abid mengucapkan kalimat yang melampaui batas dimana ia sampai tega mengatakan bahwa saudaranya tidak bakal diampuni Allah dan bahkan tidak akan masuk surga. Maka apa yang akhirnya terjadi pada kedua abang-beradik ini? Marilah ikuti jalan ceritanya dengan langsung membaca haditsnya di bawah ini:

Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Ada dua orang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang saling bersaudara. Yang satu rajin ibadah dan lainnya berbuat dosa. Lelaki yang rajin beribadah selalu berkata kepada saudaranya, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” Suatu hari ia melihat saudaranya berbuat dosa dan ia berkata lagi, ‘Hentikan perbuatan dosamu!” “Biarkan antara aku dan Tuhanku. Apakah kamu diutus untuk mengawasiku?” jawabnya. Ia berkata lagi, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu” atau “Dia tidak akan memasukanmu ke surga.” Kemudian Allah mengutus malaikat kepada keduanya untuk mengambil ruh keduanya hingga berkumpul di sisi-Nya. Allah berkata kepada orang yang berdosa itu,“Masuklah kamu ke surga berkat rahmat-Ku.”Lalu Allah bertanya kepada lelaki yang rajin beribadah,“Apakah kamu mampu menghalangi antara hamba-Ku dan rahmat-Ku?”Dia menjawab, “Tidak, wahai Tuhanku.” Allah berfirman untuk yang rajin beribadah (kepada para malaikat): “Bawalah dia masuk ke dalam neraka.” Abu Hurairah– semoga Allah meridhainya – berkomentar, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh ia berkata dengan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.”(HR Abu Dawud).

Wallahu’alam,,,
Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita di atas,agar kita selalu senantiasa tunduk dan merendahkan diri kepada Allah SubhanallahWata’ala

 

Kisah Tentang Taubat 05/06/2011

Filed under: Kisah-kisah islam — akhrudi88 @ 10:13 p06

Taubat Nabi Adam a.s.

Diriwayatkan dari Hasan, ia berkata bahawa ketika Allah menerima taubat Nabi Adam a.s., para malaikat mengucapkan selamat kepadanya dan Jibril serta Mikail a.s. turun kepadanya seraya berkata, “Wahai Adam, tenanglah hatimu sebab Allah Taala telah menerima taubatmu.”

Jawab Nabi Adam a.s., “Hai Jibril, jika sesudah taubat ini ada pertanyaan, maka di mana sebenarnya maqam (kedudukan) aku?”

Allah pun menurunkan wahyu kepada Nabi Adam a.s., “Hai Adam, Kuwariskan kepada keturunanmu jerih-payah dan upah, dan Kuwariskan taubat kepada mereka. Barangsiapa di antara mereka berdoa kepada-Ku, pasti Kukabulkan sebagaimana Aku mengkabulkan engkau, dan barangsiapa memohon ampunan-Ku, Aku tidak berlaku kikir ke atasnya. Sebab Aku dekat, dan pengampun dosa. Hai Adam, orang-orang yang bertaubat akan dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan suka ria dan tersenyum simpul di mana doa permohonan mereka dikabulkan.”

Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat

Diriwayatkan bahawa di kalangan Bani Israil ada seorang pemuda yang beribadat kepada Allah selama 20 tahun dan membuat maksiat kepada-Nya selama 20 tahun pula. Suatu hari dia melihat wajahnya di cermin, dan nampaklah janggutnya yang beruban. Dia merasakan dirinya telah tua dan sudah tentu telah dekat dengan kematian.
Keadaan itu menyebabkan hatinya merana, lalu mengeluh, “Hai Tuhanku, aku telah taat kepada-Mu selama 20 tahun, kemudian maksiat kepada-Mu selama 20 tahun pula. Andaikata aku kembali kepada-Mu, sudikah Engkau menerima-Ku?”

Kemudian dia mendengar suatu suara berkata, “Engkau telah mencintai-Ku, maka Aku pun mencintaimu. Engkau telah meninggalkan-Ku, maka Aku pun meninggalkanmu. Dan engkau telah maksiat kepada-Ku, maka engkau Kuberi waktu. Jikalau engkau kembali kepada-Ku, Aku terimalah engkau.”

Pintu Taubat Sentiasa Terbuka Bagi orang yang bertobat
Seorang lelaki telah bertanya kepada Ibnu Mas`ud tentang seorang yang berdosa tapi menyesalinya, apakah bagi orang itu ada hak taubat. Ibnu Mas`ud berpaling daripadanya, kemudian menghadapnya semula dengan kedua matanya bercucuran air mata, lalu menjawab, “Sesungguhnya Syurga itu mempunyai delapan pintu yang seluruhnya kadang kala terbuka dan kadang kala terkunci, kecuali pintu taubat. Pada pintu ini ada malaikat yang diserahi tugas agar jangan menguncinya. Bertaubatlah, jangan berputus asa!”

Taubat Dengan Menebus Dosa
Pada umat sebelum Rasulullah SAW, ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang. Suatu hari dia menanyakan tentang orang yang paling alim di dunia ini, lalu ditunjukkan kepadanya seorang rahib. Lelaki itu pergi berjumpa sang rahib dan mengatakan bahawa dirinya telah membunuh 99 orang, apakah masih berhak untuk taubat. Rahib itu mengatakan tidak. Lalu dibunuhnya sekali rahib tersebut dan dengan itu cukuplah seratus orang. Kemudian ia bertanya lagi siapa yang paling alim di dunia ini. Ditunjukkanlah kepadanya salah seorang alim, lalu ia pun mengaku kepada orang alim itu yang ia telah membunuh seratus orang, apakah ia boleh bertaubat.
Jawab orang alim itu, “Ya. Siapa yang dapat menghalang kamu daripada bertaubat? Pergilah ke kampung sekian, sekian. Di sana, orang-orangnya memuja Allah Taala. Menujulah kepada Allah bersama-sama mereka dan jangan kembali ke kampungmu. Sebab kampungmu adalah tanah jahat.”
Di pertengahan jalan, lelaki itu telah meninggal dunia. Maka berselisihlah malaikat rahmat dan malaikat azab tentang siapa yang berhak menguruskannya.

Malaikat rahmat berkata, ” Di hatinya telah ada taubat kepada Allah.”

Malaikat azab pula berkata, “Dia belum berbuat kebaikan sama sekali.”

Kemudian, Allah mendatangkan malaikat lain dalam rupa manusia biasa untuk memutuskan perkara itu. Jarak di antara lelaki itu dengan kedua buah kampung pun diukur. Ternyata ia lebih dekat dengan kampung yang sedang ditujuinya dengan kadar satu jengkal. Akhirnya ia pun diuruskan oleh malaikat rahmat. Oleh itu, jelaslah bahawa tidak ada keselamatan kecuali dengan lebih beratnya timbangan kebaikan walaupun hanya seberat satu atom. Kerana itu wajib bagi orang yang bertaubat untuk memperbanyakkan kebaikan bagi menebus dosa-dosanya.

sumber : http://www.mukmin.com.my